RAKET KAYU YANG MENJADI EMAS

Kalau di era 70-an grup musik Indonesia terkenal Koes Plus pernah mengatakan bahwa di Indonesia yang subur ini, “tongkat kayu bisa menjadi tanaman,”

ternyata…..

di zaman milenial sekarang — masih di Indonesia, justru hal yang lebih ‘heboh’ terjadi.  Tidak tanggung-tanggung,  raket kayu berubah menjadi emas.  How come? 

Adalah Apriyani Rahayu, pemain bulutangkis yang berasal dari Konawe,  Sulawesi Tenggara yang perjuangannya tidak asal-asalan. 

Dalam beberapa wawancara yang banyak ditayangkan akhir-akhir ini,  Ani — begitu panggilannya, menyebutkan bahwa ia pecinta bulutangkis sejak kecil. 

Kecintaannya sampai membuatnya kehilangan ‘syaraf malu’. 

Bayangkan, karena keuangan yang terbatas,  opande dan omande (panggilan buat bapak dan ibu dari Ani), yang adalah PNS dan ibu rumah tangga, tidak bisa menyediakan cukup dana untuk sekedar membeli raket dan kok yang memadai.

Alih alih patah semangat,  Ani justru tetap menekuni kecintaannya dan dengan bangga  memakai raket yang dibuat ayahnya dari kayu. 

Lagi lagi karena cinta,  Ani terus bermain sampai tak kenal waktu, bahkan tatkala hari sudah gelap sekalipun. 

Berhenti sampai di sini? Belum.

Ibunya yang menanami halaman belakang rumah mereka dengan terong dan sayuran lainnya,  memberi ide bagi Ani untuk mendapatkan uang.  Jadilah,  Ani kecil menjual sayur demi mendapatkan uang.

Sepertinya gadis berambut cepak  ini harus menyematkan kata ‘perjuangan’ sebagai nama tengahnya.  Apalagi,  dalam perjalanan kecintaannya pada bulutangkis Ani banyak mengalami pandangan tak percaya orang padanya. 

Diremehkan?  Ya,  Ani mengalaminya.  Postur tubuhnya yang tidak tinggi mengakibatkan Ani banyak diejek sebagai orang yang tidak mungkin bisa menjadi pemain bulu tangkis.

Singkat cerita,  melewati banyak tantangan, akhir 2011 Ani pun akhirnya tiba di Jakarta. Niatnya,  akan berlatih walaupun secara finansial tidak memadai. Icuk Sugiarto,  mantan atlet bulutangkis yang memimpin di PB Pelita Bakri menjadi menolak Ani berlatih di sana.

Baca Juga: Dibuang Malah Menjulang

Om Akib,  begitu Ani memanggil pengurusnya melakukan negosiasi agar Ani dipantau dulu selama 3 bulan,  dan jika Ani menunjukkan perkembangan yang baik,  Ani dapat bergabung.

Kesepakatan ini tidak pernah disampaikan sebelumnysa pada Ani,  yang tetap bermain bulutangkis dengan cinta dan semangat. 

Sudah bisa ditebak,  3 bulan masa pemantauan itu, Ani menunjukkan perkembangan yang baik yang menjadi tiket baginya untuk bergabung di PB Pelita Bakri dengan bebas biaya latihan. 

Selesai sampai di sini?  Tentu tidak. 

Tidak ada jalan mudah untuk mencapai keberhasilan.

Perjuangan demi perjuangan dilewati Ani. Hingga akhirnya raket kayu yang dulu pernah dipakainya  menghantarkannya membawa medali emas bagi Indonesia bersama Greysia Polii. 

Lagu Indonesia Raya berkumandang di Olympiade Tokyo, menggetarkan hati anak bangsa ini. Dua srikandi  Indonesia telah berjuang dan mengharumkan nama bangsa. 

Dan Ani,  selain mendapat puja dan puji,  mendapat banyak hadiah lain secara pribadi.

Tak tanggung-tanggung: uang cash, menjadi bintang iklan dan endorse,  apartemen, dan beberapa rumah menjadi bagian perolehannya. 

Bahkan,  Bupati Konawe, daerah asalnya memberikan tanah dan sapi.  Oalahh Ani,  paket lengkap yaa. 

Jadi bagaimana, percaya kalau  Indonesia itu unik? 

Tongkat kayu bisa jadi tanaman,” kata Koes Plus.  Dan di tangan Apriyani malah raket kayu menjadi medali emas dan banyak bonus lainnya. 

Ayoo,  kita bisa! Ciptakan ’emas’ lain melalui kita.

Dibalikmedali/YS

Sobat Sporty, tahukah kamu bahwa dibalikmedali.com punya tempat bercerita/sharing mengatasi perjuangan hidup. Hidup yang biasa saja, bisa menjadi hidup yang cemerlang seperti emas. Kami menyediakan tim mentor yang akan menemanimu. Caranya? Klik TOMBOL MERAH yang ada di kanan bawah

Scroll to Top